Peran Guru Dalam Pendidikan Kritis Generasi Muda

Pendidikan, sebuah kebutuhan premier bagi sebuah Negara yang bercita – cita besar. Pendidikan ibarat angin segar yang akan membawa serpihan – serpihan daun harapan bagi keberlangsungan bangsa dalam menapaki semakin ketatnya persaingan global. Ditengah persaingan yang begitu ketat di segala bidang , berbekal pendidikan yang berkualitas, cita – cita bangsa yang awalnya hanya sekedar mimpi tentu tidak akan sulit untuk diraih oleh siapapun termasuk Indonesia.

Dengan pendidikan yang berkualitas maka akan melahirkan sumber saya manusia yang berkualitas pula. Kesejahteraan, Kemakmuran, Keadilan dan kedaulatan negeri ini hanya akan menjadi sebuah fatamorgana di gurun pasir tanpa adanya sumber daya manusia berkualitas yang mampu mewujudkan itu semua. Sumber daya alam yang besar dan keberagaman hasil pertanian hanya akan menjadi omong kosong tanpa adanya aspek intelektual manusia untuk mengelolanya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa elemen sumber daya manusia menjadi aspek yang sangat penting bagi kesuksesan melaksanakan cita – cita sebuah bangsa kedepannya.

Sistem pendidikan yang berkualitas hanya akan terjadi jika gurunya juga berkualitas. Tanpa mengesampingkan konsep “Belajar sepanjang hayat” dimana pendidikan bisa dilaksanakan dimana saja dan kapan saja selagi manusia itu hidup, kita sepakati bahwa sementara ini di Negara kita sekolah merupakan sarana pendidikan utama bagi warga negaranya. Tidak akan ada artinya Negara dengan ide dan gagasan mengenai kurikulum, Anggaran yang besar, prosedur teknis pelaksanaan pendidikan, tanpa didukung oleh kualitas guru expert yang dalam hal ini berada di garis depan sebagai pelaksana pendidikan di sekolah.

Mengilhami konsep siswa belajar, guru belajar, Menteri belajar atau pada dasarnya semua orang harus belajar, Kementrian Pendidikan yang saat itu masih dinahkodai oleh Anies Baswedan melaksanakan Ujian Kompetensi Guru dengan tujuan mengevaluasi kualitas guru yang ada di Indonesia. Terlepas dari tujuan utama tersebut kebijakan ini bisa dibilang sukses dalam membangunkan pemikiran – pemikiran sempit guru bahwa yang dipaksa belajar hanya siswa dan guru tidak perlu belajar. Sebuah gagasan yang hebat menurut saya. Ini bukti pemerintah masih peka terhadap permasalahan yang mendasar yang dimiliki oleh Indonesia yakni kualitas guru.

Selama ini guru sering melupakan aspek pendidikan kritis bagi siswa. Guru asyik dengan mengejar aspek kognitif dalam mengajar sehingga melupakan aspek pendidikan kritis bagi siswa – siswinya. Jangankan melaksanakan berusaha mencetak siswa – siswi yang kritis, bahkan banyak dari unsur guru cenderung apatis terkait kebijakan di bidangnya dan kepedulian terhadap komponen – komponen pendidikan yang ada. Guru hanya memposisikan sebagai pelaksana dari kebijakan – kebijakan pemerintah tanpa mau tahu positif dan negatif kebijakan tersebut. Tidak ada bedanya guru dengan robot yang selalu menelan mentah – mentah perintah sang pembuat program. Bedanya hanya guru menjadi pelaksana program – program pemerintah dan robot menjadi pelaksana dari perintah sang pembuat program.

Ketika sudah begini apa mungkin kita bisa menyiapkan generasi muda selalu berpikir kritis terhadap aspek – aspek keberlangsungan sebuah bangsa. Inlah saat yang tepat untuk merubah mindset siswa bahwa guru bukan dewa yang selalu benar dan murid bukan kerbau. Mari kita bangun mindset bahwa guru sebagai fasilitator belajar siswa di sekolah wajib melaksanakan pendidikan kritis bagi siswa – siswinya. Seorang guru juga wajib membukan wawasan siswa bahwa dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki mereka dituntut untuk peduli dan peka terhadap aspek – aspek sosial di masyarakat. Berikan modal bagi siswa agar berani menjadi pemberontak intelektual yang kelak mampu merubah tatanan yang menyengsarakan ini bagi kehidupan orang banyak.

Kaum guru juga tidak perlu takut membentuk siswa kritis akan mengancam peran dan eksistensi guru di kelas. Guru bukan sumber ilmu yang dituntut untuk selalu paham apapun yang dibutuhkan oleh siswa. Peran guru tentu lebih besar dan mulia dari sekedar itu, seorang guru berkesempatan untuk menjadi pahlawan yang berada di garis depan dalam melaksanakan cita – cita mulia negeri ini yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan tentunya menyiapkan generasi masa depan dengan generasi – generasi yang berkualitas dan tentunya peka terhadap aspek sosial. Dan hal tersebut tentu tidak aka tercapai ketika budaya kritis di sekolah tidak ditanamkan sejak dini.

Selama pendidikan hanya terfokus pada aspek kognitif dan mengesampingkan aspek afektif, kritis, dan kepedulian, selama itu pula generasi baru yang lahir akan menjadi generasi yang tidak peduli terhadap sesama, lingkungan dan keberlangsungan kehidupan bangsa. Generasi yang lahir tidak akan lebih dari generasi yang egois tanpa peka terhadap apapun. Sudah saatnya kita sebagai guru untuk mengambil peran dalam menciptakan generasi muda yang kritis, yang peduli bahwa saat ini kita masih terjajah , terjajah oleh system yang menyengsarakan dan kalianlah sebagai generasi masa depan yang wajib merubah tatanan yang menyengserakan ini menjadi sebuah tatanan sesuai dengan harapan rakyat Indonesia.

Konsen dari bangsa ini sekarang adalah Pendidikan kritis karena mendidik adalah melawan, melawan kebodohan, melawan kemiskinan, dan melawan kesewenang wenangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s