Alasan Saya Memilih Jokowi-JK dan Tidak Memilih Prabowo-Hatta

Pemilu presiden sudah berakhir beberapa hari yang lalu. Meskipun kedua pasang calon presiden sama – sama mengklaim menjadi pemenang, namun keduanya harus bersabar hingga KPU mengumumkan siapakah yang benar – benar menjadi pemenang pemilihan presiden versi real count yang sudah ditentukan oleh KPU pada tanggal 22 juli mendatang.

Ini adalah pilpres pertama yang saya ikuti dan itu membuat saya benar – benar antusias menyambut pesta demokrasi kali ini. Ketika sudah ditentukan bahwa capres yang bertarung dalam pilpres kali ini adalah 2 pasang capres yakni Prabowo – Hatta dan Jokowi – JK maka saya dengan mudah sudah mendapatkan pilihan mana capres yang akan saya pilih untuk memimpin Indonesia 5 tahun kedepan. Dan Capres pilihan saya jatuh pada pasangan nomor urut 2 Jokowi-JK

Sangat tidak sulit untuk memilih dari dua pasang calon tersebut. Memilih presiden bukanlah memilih sosok sempurna yang akan kita beri amanat untuk memimpin Indonesia. Bagi saya memilih Presiden adalah memilih sosok ideal dan terbaik diantara kedua pasang calon yang maju dalam pilpres kali ini. Dan alasan mengapa saya memilih Jokowi dan tidak memilih Prabowo sangat simple. Berikut ini alasannya :

  1. Ambisi

Sebelum menjadi Calon Presiden, Jokowi adalah Gubernur DKI Jakarta. Dia tidak mencalonkan diri sebagai calon presiden tetapi dicalonkan karena Jokowi dianggap sebagai kader terbaik yang dirasa mampu untuk mengemban amanah itu. Berbeda dengan Prabowo, melihat dari sikap, tindakan dan sejarah masa lalunya saya menilai jika Prabowo sangat berambisi menjadi Presiden. Mengeluarkan banyak uang dan beriklan selama bertahun – tahun untuk ambisi menjadi seorang presiden. Apa iya untuk membangun negeri ini harus dengan menjadi seorang Presiden ? Apa iya mengeluarkan uang dengan nilai fantastis untuk iklan dan kampanye lebih baik dengan menggunakannya langsung untuk kepentingan rakyat ? inilah salah satu alasan yang membuat saya ragu akan dedikasi dan tujuan Prabowo sebenarnya.

  1. Orang – orang di belakang

Ini adalah alasan kedua mengapa saya tidak akan memilih Prabowo-Hatta yaitu siapa orang – orang yang ada di belakang kedua pasang calon ini. Semua partai yang selama ini saya anggap sebagai partai bermasalah berkumpul menjadi satu di kubu nomor 1. Mulai dari mafia daging(PKS), mafia haji(PPP), lumpur lapindo(Golkar), Century, Hambalang (Demokrat) berkumpul menjadi satu di kubu nomor satu Prabowo-Hatta. Nama terakhir yakni partai demokrat yang sempat menyatakan netral akhirnya bergabung ke kubu Prabowo-Hatta. Apakah bergabungnya demokrat ke kubu Prabowo-Hatta benar – benar murni dukungan atau hanya untuk mencari perlindungan politik di periode pemerintahan selanjutnya terkait pengusutan kasus bailout bank century ? dimana yang menurut Akbar Faizal (Nasdem) dikatakan jika Century tidak akan selesei pada pemerintahan periode sekarang karena mendapat perlindungan secara politik dari pemerintah sekarang.Lalu untuk menjatuhkan pilihan ke Jokowi-JK apakah saya melihat dari partai koalisi pengusungnya ? jawabannya adalah tidak. Bergabungnya tokoh – tokoh penuh integritas seperti Anies Baswedan, Dahlan Iskan, Khofifah IP membuat saya tidak ragu untuk memilih pasangan nomor dua Jokowi JK.

  1. Koalisi Partai Pengusung

Di Pilpres ini kubu Prabowo-Hatta diusung oleh banyak partai, diantaranya Gerindra, PAN, PKS, PPP, PBB, Golkar dan terakhir Demokrat. Saya menyebutnya bukan koalisi tenda besar tetapi,” koalisi besar, transaksional dan tanpa perubahan”. Aroma transaksional sangat tercium disini. Meskipun kubu nomor satu menolak dikatakan transaksional namun bergabungnya sejumlah tokoh seperti Mahfud MD dan Aburizal Bakrie diketahui karena dijanjikan jabatan sebagai menteri utama. Menteri utama itu apa ? secara undang – undang tidak ada jabatan menteri utama di Indonesia. Ada juga pengakuan bahwa partai ini akan mendapat sekian kursi menteri dengan jabatan di kementrian ini dan ini. Terbongkarnya praktik bagi – bagi menteri ini kemudian oleh fadli zon disebut sebagai praktik bagi – bagi tugas.

Saya tidak mengatakan bahwa koalisinya Jokowi tidak transaksional. Namun Kubu capres nomor dua Jokowi-JK dengan tegas mengatakan tidak membicarakan komposisi menteri kepada partai pengusung untuk menghindari politik transaksional yang selama ini menjadi salah satu alasan banyaknya korupsi terjadi di Indonesia. Usaha Jokowi ini layak mendapat apresiasi walaupun tentu jika Jokowi menang kelak komposisi menteri tidak akan jauh – jauh dari partai koalisi dan orang – orang yang berintegritas yang menjadi pendukungnya. Namun keberianian menolak koalisi dari golkar membuat saya lebih yakin jika transaksional di kubu jokowi lebih minim ketimbang kubu sebelah.

  1. Orang – orang yang pemikirannya saya hormati mendukung pasangan Jokowi-JK

Ini salah satu hal yang membuat saya semakin yakin bahwa pilihan saya memilih pasangan nomor 2 Jokowi-JK adalah pilihan yang sangat tepat. Tokoh – tokoh diluar politisi seperti artis dan seniman terpecah menjadi dua. Namun ketika saya mencermati, ternyata kubu nomor dua didukung oleh seniman dan artis yang penuh integritas dan dikenal kritis serta peduli terhadap Negara dan yang paling penting mereka ikhlas mendukung dan mengkampanyekan pasangan Jokowi-JK tanpa bayaran alias gratis. Tokoh seperti Slank, Butet Kertarejasa, Trio Lestari, Marzuki Muhammad/Kill The DJ, Pandji, Superman Is Dead dll membuat saya yakin bahwa ‘I stand on the right side’.

  1. Saya bukan pemilih rasional bukan pemilih berdasarkan asumsi

Ketika saya bertanya ke teman – teman mengapa memilih prabowo jawabannya cukup beragam. Ada yang mengatakan jika Jokowi Presiden Tunjangan sertifikasi guru akan dihapuskan, Prabowo orang yang tegas, anti kepentingan asing, pemberani dan nasionalis, tampan, ganteng dan gagah. Oke sebagai orang yang cukup jelek saya tidak akan membantah kalau prabowo itu tampan dan gagah, namun soal tegas dan berani.benarkah prabowo tegas dan berani ?

Jika prabowo tegas dan berani mengapa dia mengaku melakukan penculikan aktivis karena terpaksa atau diperintah atasan ? memangnya dia tidak berani menolak perintah dari atasan ? atau Soeharto ?. Jika Prabowo berani mengapa beliau sempat meninggalkan Indonesia dan memilih bersembunyi di Yordania ?. Jika menentang perintah atasan saja tidak bisa bagaimana bisa dikatakan berani menentang Negara superior seperti Amerika dan Rusia ?

Prabowo Tegas ? ingatkah saat beliau mendukung rencana mendagri Gamawan Fauzi untuk bekerja sama dengan FPI yang katanya adalah asset bangsa dan mengatakan FPI butuh dirangkul. Tapi ketika pernyataan prabowo itu banyak menuai protes oleh pendukungnya, beliau buru – buru mengklarifikasi bahwa beliau siap melawan dan menghadapi siapapun yang mengancap pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

https://www.facebook.com/PrabowoSubianto/posts/10151648646576179

pernyataan itu berkesan seperti plin – plan dan bermuka dua. Statement bermuka dua ini jelas menunjukkan bahwa prabowo ingin mencari dukungan dari kedua belah pihak dan sekaligus menunjukkan bahwa beliau bukan orang yang tegas mengambil tindakan. Seharusnya beliau berani mengatakan apakah FPI itu bertentangan dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika atau tidak.

Satu lagi, tentang isu penghapusan sertifkasi guru oleh Jokowi-JK. Jika ada seorang guru yang percaya dengan isu tersebut bisa dikatakan kebangetan karena guru dianggap sebagai seorang yang terpelajar. Anies baswedan (Juru bicara Jokowi-JK) dan juga Jokowi sendiri dengan tegas membantah bahwa program sertifikais guru akan dihapuskan dengan mengatakan bahwa guru memiliki peran penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Oleh karenanya kesejahteraan guru harus benar – benar diperhatikan oleh pemerintah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s