Sudah Saatnya Merubah Pemilih Kategori “Yang Polos Dapat Kaos Yang Cerdas Dapat Beras”

Tahun ini rakyat Indonesia akan kembali menggelar pesta demokrasi. Di tahun ini pula rakyat Indonesia akan punya Presiden baru. Seperti diketahui bersama bahwa Presiden SBY tidak akan mencalonkan kembali karena telah memimpin sebanyak dua periode. Tidak hanya menentukan Presiden, tahun ini rakyat juga akan memilah – milah siapakah yang layak ataupun tidak layak untuk menjadi wakil mereka di legislatif.

Dengan sistem pemilihan yang sepenuhnya berada di tangan rakyat, tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi kita karena bisa memilih sesuai pilihan kita sendiri siapa saja yang berhak menjadi wakil kita di DPR. Namun yang harus ditegaskan disini adalah adalah jangan sampai kita memilih orang yang salah untuk menjadi wakil kita nanti. Kami sebagai rakyat tidak ingin orang yang duduk di DPR kelak adalah orang – orang yang terpilih berdasarkan pilihan dari orang yang asal pilih.

Namun ada fenomena menarik yang sepertinya sudah menjadi realita di masyarakat. Rakyat lebih bersimpati terhadap calon yang memberikan sesuatu kepada rakyat baik kaos, kalender, bahkan uang dan sembako. Fenomena seperti ini mungkin potret wajah pemilih kita kebanyakan. Kami menyebutnya dengan fenomena “Yang polos dapat kaos, yang cerdas dapat beras”.

Golongan pemilih seperti ini mungkin masih belum sadar jika mereka melakukan perbuatan yang salah. Yang mereka sadari mungkin adalah memilih pemimpin tidak akan berdampak langsung kepada kehidupan mereka. Namun satu hal yang tidak mereka sadari adalah mereka telah memilih wakil – wakil rakyat yang tidak akan pro rakyat dan hanya mementingkan kepentingan pribadi untuk balik modal selama kampanye. Pemberian iming – iming jangka pendek harus dibayar dengan penderitaan 5 tahun karena diwakili oleh orang – orang yang salah.

Fenomena diatas terjadi karena sebagian masyarakat masih belum sadar akan hak politik yang dimiliki oleh setiap warga Negara. Jika masyarakat sadar akan hak politiknya tentu masyarakat akan marah jika suaranya dalam memilih wakil rakyat dan pemimpin hanya dihargai dengan sembako senilai 50 ribu atau bahkan hanya dengan kaos dan kalender.

Pendidikan kritis dimasyarakat bisa menjadi salah satu jalan untuk membuat pemilih yang cerdas di level bawah. Pendidikan kritis akan melahirkan komunitas pemilih kritis. Jika di setiap desa, kampung, kecamatan dan kabupaten terbentuk komunitas – komunitas pemilih kritis makan akan timbul rasa kesatuan untuk membangun Indonesia baru yang beradap dan berkeadilan. Semangat inilah yang perlu digarap oleh institusi – institusi dalam demokrasi seperti Pers, KPU, Parpol atau bahkan Perguruan Tinggi.

Sudah saatnya masyarakat cerdas dalam memilih pemimpin dan wakil rakyat. Masyarakat hendaknya tahu jika seorang pemimpin relatif harus bersih dari persoalan etika, moral dan tidak cacat hukum. Pencerdasan pemilih di masyarakat sudah saatnya untuk segera dilakukan. Tidak dapat menunggu lagi. Ini untuk mencegah sikap pemilih yang asal pilih, yang penting nyoblos atau bahkan memilih jadi golongan putih atau golput.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s