Sisi Negatif Strategi Arema yang Gemar Pasang 4 Striker

Musim ISL tahun 2012/2013 hampir menemui ujung dengan tim Persipura sudah memastikan diri tampil sebagai jawara. Persaingan sengit justru terjadi pada perebutan posisi runner up. Tercatat ada 3 tim yang bersaing ketat memperebutkan posisi ini. Arema dan Persib menjadi dua nama yang terkuat dalam persaingan memperebutkan posisi kedua ISL yang kemungkinan akan mewakili Indonesia dia ajang AFC Cup musim depan.

Saya pribadi tentu berharap Arema yang akan berhasil finish di posisi kedua musim ini sekaligus mewakili Indonesia di AFC musim depan. Jika berhasil finish di posisi kedua tentu ini bukan merupakan hasil yang buruk bagi klub kebanggaan warga malang ini walaupun target di awal musim sebenarnya adalah juara. Keberhasilan menjadi runner up tentunya akan menjadi pengobat luka bagi Aremania yang di awal musim sudah dijanjikan menjadi juara ISL oleh manajemen.

Bila kita cermati perjalanan Arema di setiap pertandingannya musim ini, yang mejadi masalah dalam permainan Arema adalah masalah keseimbangan dalam bertahan dan menyerang.  Keseimbangan menjadi kunci dalam sepak bola modern karena di era sepak bola modern suatu tim dituntut untuk bermain sama bagusnya baik dalam bertahan maupun menyerang. Seperti yang dikatakan oleh pelatih Arema Rahmad Darmawan bahwa Arema tidak mempunyai pemain bertipe Playmaker yang menjadi pengatur permainan dalam tim.

Selain tidak punya pemain bertipe playmaker yang bisa mengatur tempo pertandingan, ada satu lagi masalah yang menurut saya membuat keseimbangan dalam tim kurang baik. Masalah tersebut adalah kegemaran coach RD memasang pemain bertipe striker terlalu banyak. Musim ini kita sering melihat 4 pemain bertipe seperti Greg, Beto, Gonzalez, Kayamba,dan Sunarto (bahkan sebelumnya Qischil) bermain dalam satu pertandingan secara bersamaan.

Tidak ada yang meragukan kualitas semuanya sebagai tukang gedor haus gol di Indonesia. Nama – nama seperti Beto, Gonzalez, Kayamba dan Greg merupakan jaminan bagi Arema memiliki ketajaman yang sempurna untuk menaungi kompetisi ISL musim ini. Namun bagaimana jika suatu tim memasang 4 permain bertipe striker dalam satu pertandingan ? walaupun 2 dari mereka ditempatkan di posisi winger kanan dan kiri.

Masalah pertama yang akan muncul adalah berkurangnya jumlah umpan crossing dari sisi sayap. Ketika Arema memainkan Sunarto di sayap kanan dan Kayamba di sayap kiri kita bisa melihat bahwa jumlah crossing yang dilakukan kedua pemain ini tidak banyak. Sunarto dan Kayamba akan lebih sering masuk ke dalam kotak penalty untuk membuka ruang di lini depan. Crossing justru banyak lahir dari wing bek yang biasa diisi oleh Hasyim Kipuw dan Thiery Gathuesy. Namun bisa saja ini memang strategi yang diterapkan dari coah RD.

Yang kedua adalah kedua pemain sayap sering terlambat untuk membantu wing bek ketika ada serangan dari sisi sayap. Inilah yang akan mempengaruhi keseimbangan tim dalam bertahan. Pemain – pemain seperti Kayamba dan Sunarto yang bernaluri menyerang sangat tinggi sering terlambat untuk membantu pertahanan ketika dipasang sebagai sayap. Lain halnya dengan Dendi Santoso yang sejak era Robert Albert sudah sering bermain di posisi sayap walaupun posisi asli dirinya adalah seorang striker.

Memasang 4 pemain bertipe striker sekaligus seperti yang kerap dilakukan coach RD bukan juga tanpa keuntungan. Sisi positifnya mayoritas gol dari Arema musim ini diciptakan oleh quartet lini depan Beto, Gonzalez, Kayamba dan Greg. Lalu bagaimana kedepan Arema menyikapi ini ? tentu coach RD lebih tahu mana skema yang paling tepat guna disesuaikan dengan kondisi skuad yang ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s